Pages - Menu

Sabtu, 12 Januari 2019

PERANAN KAUM HAJI DALAM PEMBENTUKAN NASIONALISME INDONESIA


Peranan Kaum Haji Dalam Pembentukan Nasionalisme Indonesia.
Definisi Haji (hajj) menurut akar katanya (“menurut bahasa” kata para santri) kata Haji berarti “pergi ke suatu tempat” (Snouck Hurgronje 1895:16) atau “menuju tempat yang diangungkan” (irawan 2011:32) menurut Quraish Shihab (2000:83), kata haji menunjukan segala jenis ziarah: “Haji dalam arti berkunjung ke suatu tempat tertentu untuk tujuan ibadah, dikenal oleh umat manusia  melalui tuntutan agama-agama, khususnya di bagian Timur dunia kita ini.[1] Namun dalam bahasan ini, kata haji lebih dimaksudkan dalam artinya yang biasa dalam bahasa Indonesia yang sudah sama-sama kita tahu, yaitu ziarah haji ke Mekkah sebagai rukun iman yang ke-5.[2] Sedangkan kata kaum dapat diartikan sebagai golongan (orang yang sepakat,sekerja dsb)[3]. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kaum Haji adalah golongan yang telah pergi melaksanakan ibadah di Mekkah. Dalam bahasan ini penulis akan lebih menyoroti kaum Haji di Minangkabau pada akhir abad 18 dan kaum Haji di Banten pada akhir abad 19.
Mekkah dianggap sebagai pusat ajaran islam dalam bentuk kitab dan fatwa[4], dan sejak abad ke 14 hubungan anatara Nusantara dan Tanah Arab cukup lazim. Pada abad ke 15 sudah banyak orang-orang arab yang bermukim di Nusantara dan sedini abad ke-17 orang Indonesia yang bermukim selama bertahun-tahun di Mekkah untuk belajar, jumlahnya lebih banyak lagi.[5] Tentu saja hal ini dapat berjalan lancar akibat pelayaran antara kepulauan Indonesia dan Tanah Arab. Sehingga dapat disimpulkan pula bahwa perjalanan haji juga cukup lazim.[6] Dan tidak dapat disangkal lagi bahwa perjalanan naik haji itu telah melahirkan satu benteng solidaritas yang kokoh dan mereka yang pulang dari negeri Mekkah membawa semangat kebesaran dan keagungan islam.[7]
Pada tahun 1803 para saudagar Minangkabau yang makmur memungkinkan lebih banyak orang yang naik haji.[8] Sedangkan pada tahun itu Mekkah sedang menghadapi masa keguncangan akbiat serangan dari para pejuang padang pasir atau kaum Wahabbi dari Arab Timur yang menyerukan tuntutan untuk kembali ke ajaran nabi dan sahabat-sahabatnya yang paling fundamental (mendasar).[9]
Haji bagi masyarakat Banten merupkana hal yang sangat suci, mereka sangat menghormati para haji dan para haji dapat menggunakan pengaruh mereka yang sangat besar untuk menggerakan masyarakat agar dapat lebih menaati kewajiban agama mereka.[10] Jika di Minangkabau yang pergi melaksanakan ibadah haji adalah para  saudagar, di Banten tidak hanya saudagar, melainkan juga para tuan tanah. Hal ini di akibatkan karena di Banten merupakan masyarakat agraris yang kekayaan dan status kedudukannya ditentukan dari kepemilikan tanah.
            Kondisi sosial-ekonomi Banten utara sangat lah makmur, ini disebabkan oleh terdapat tanah-tanah sultan, dekat denan kota pelabuhan, terdapat tanaman-tanaman  komersial akibat dari sistem irigarsi yang bagus. Selain itu di Utra juga terdapat Industri. Industri itu menyebabkan pemusatan penduduk. Utara juga merupakan penghasil beras utama. Dan di Banten, kaum haji merupakan elite pedesaan.[11]
Rupanya ajaran wahabi yang terjadi di Mekkah tahun 1803 ini sangat berkesan bagi para penziarah Minangkabau sehingga mereka bertekad untuk melaksanakan pembaharuan total apabila mereka kembali ke kerumah.[12] Mereka dikenal sebagai Padri, yang berarti orang dari Pedir (pidie) sebuah pelabuhan di Aceh.[13] Di Minangkabau para Haji yang berganti nama menjadi Padri yang telah kembali kedesanya menjadi persaudaran islam atau tarekrat yang disebut sebagai sufi.[14] Mereka menyebarkan ajaranya melalui surau atau rumah para pemuda setelah akil baliq[15]. Melalui surau ini para Padri meyebarkan ajarannya, salah satu ajaran yang sangat ditekankan adalah terjadinya masyarakat islam.
Melihat kondisi masyarakat Minangkabau yang banyak terjadi penyimpangan dalam ajaran islam, seperti judi, minum-minuman keras dll. Para kaum Padri membuat suatu gerakan yang disebut gerakan Padri. Gerakan ini melembagakan ajaran-ajaran agamanya dan yang menjadi ciri khas gerakan ini adalah penggunaaan kekerasan yang teroganisir untuk melawan penduduk yang tidak mau tunduk terhadap gagasan gerakan Padri tentang masyarakat islam.[16] Hal itu mengakibatkan Padri harus bertentangan dengan kaum bangsawan lokal atau yang biasa disebut sebagai pemuka aat. Apalagi setelah bangsa Barat masuk ke padri, semangat untuk melawan penjajah dan “orang kafir” semakin membara.
Pada tanggal 11 Januari 1833 terjadi pemberontakan di Bonjol, jam empat pagi, kurang dari empat bulan sejak menyerah pada kekuasaan Belanda.[17] Para penelaah sejarah Afrika yang sejak semula membahas tema ini merasa bahwa gerakan-gerakan melawan kependudukan Eropa dapat di anggap sebagai gerakan “perlawanan awal”[18]. Ini dirumuskan sebagai gerakan yang bersikap tradisional dan berbeda dengan gerakan nasinalis yang bersifat modern. Gerakan nasionalis modern lebih di ilhami oleh semangat pemikiran Barat. di Eric Stokes menyebut gerakan ini sebagai “ur-nasionalisme” yang permanen dan mendasar. Gerakan ur-nasionalisme ini mewujudkan perlawanannya terhadap kehadiran Eropa dengan serangkaian bentuk bersejarah yang jelas.[19] Gerakan 1833 atau dikenal sebagai Perang Padri. Gerakan ini merupakan nasionalisme tradisional, dimana kaum Padri menyampingkan perbedaan antara kaum Padri dan kaum adat dengan bersatu padu melawan penjajahan Belanda.
Seperti halnya di Minangkabau, di Banten para kaum haji yang memiliki pandangan yang ingin merubah sistem adalah mereka yang lama di Mekkah.[20]  Kaum haji di Banten merupakan kaum elite pedesaan yang terpinggirkan setelah pemerintah kolonial belanda menghapuskan sistem stratifikasi bedasarkan hak tanah dengan sistem sewa tanah. Ditambah lagi dengan munculnya elite baru (mereka yang bukan bangsawan dan tidak memiliki kedudukan lokal tetapi duduk di pemerintahan kolonial).
Kaum haji  memegang peranan yang cukup penting dalam perastuan di masyarakat, sehingga terjadi seperti apa yang kita tahu dengan pemnerontakan petani Banten 1888. Para kaum haji mampu menggerakan masyarakat untuk berkumpul di masjid-masjid. Padahal yang terjadi di pertemuan itu adalah konsolidasi untuk melawan penjajahan Belanda. Semangat yang dibawa saat pemberontakan petani Banten 1888 bukanlah semangat naionalisme melainkan semangat melawan orang kafir ini juga merupakan semangat perlawanan yang bersifat tradisional. Semangat melawan orang kafir ini jelas dibawakan oleh kaum haji dan selain semangat itu terdapat semangat untuk merubah sistem yang mendasar, yaitu menghilangkan pemerintahan kolonial Belanda.[21]
Peranan kaum haji di daerah Minangkabau dan Banten dalam menyebarkan pemikirannya tentang perlawanan melawan orang Barat atau anti-Barat dan penolakan terhadap adanya orang asing di wilayahnya jelas berdampak besar bagi masyarakat di sekitarnya dan bagi masyarakat luas di Indonesia. Hal ini jelas dibuktikan dengan bersatunya mereka dan melakukan gerakan yang revolusioner yang ingin merubah sistem pemerintahan kolonial yang menyengsarakan dan dibuktikan dengan  adanya peristiwa penting seperti perang Padri 1833 dan pemberontakan petani Banten 1888 dimana peranan kaum haji sangat besar disitu. Dan menginspirasi gerakan-gerakan perlawanan di daerah lainnya.


DAFTAR PUSTAKA
1.      Christine Dobbin, Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri Minangkabau 1784-1847 ( Depok : Komunitas Bambu 2008)
2.      Kartodirjo, Pemberontakan Petani Banten 1888 (Jakarta :Pustaka Jaya 1984)
3.      Naik Haji di Masa Silam Jilid I-III (Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia 2013)
4.      Kamus Besar Bahasa Indonesia
5.   Rizky Aristya Setiawan, Universitas Negeri Jakarta, 2013


[1] Naik Haji di Masa Silam I (Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia 2013) Hal 4
[2] ibid
[3] Kamus Besar Bahasa Indonesia
[4] Naik Haji di Masa Silam (Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia 2013) Ha 15
[5] ibid
[6] Ibid hal 16
[7] Sartono Kartodirjo, Pemberontakan Petani Banten 1888 (Jakarta :Pustaka Jaya 1984) hal 216
[8] Christine Dobbin, Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri Minangkabau 1784-1847 ( Depok : Komunitas Bambu 2008) hal202
[9] Christine Dobbin, Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri Minangkabau 1784-1847 ( Depok : Komunitas Bambu 2008) hal 202
[10] Sartono Kartodirjo, Pemberontakan Petani Banten 1888 (Jakarta :Pustaka Jaya 1984) hal 209
[11] Ibid 79
[12] Christine Dobbin, Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri Minangkabau 1784-1847 ( Depok : Komunitas Bambu 2008) hal 204
[13] Ibid
[14] ibid 192
[15] Ibid hal 191
[16] Ibid hal 210
[17] Ibid hal 305
[18] Ibid
[19] Christine Dobbin, Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri Minangkabau 1784-1847 ( Depok : Komunitas Bambu 2008) hal 306
[20] Sartono Kartodirjo, Pemberontakan Petani Banten 1888 (Jakarta :Pustaka Jaya 1984) hal 216
[21]Ibid

POLITIK AMERIKA SERIKAT DI TIMUR TENGAH


BAB I
PENDAHULUAN

     A.    Latar Belakang
Kawasan Timur Tengah terus bergejolak dan merupakan kawasan yang begitu banyak mengalami konflik jika dibandingkan dengan kawasan lainnya di dunia. Konflik atau pertikaian di kawasan Timur Tengah sendiri berlangsung dalam berbagai lapisan masyarakat. Seperti salah satunya adalah konflik Arab-Israel, konflik antara masing-masing Negara arab. Serta konflik di dalam masyarakat yang memiliki perbedaan pendapat seperti peduduk yang berorientasi konservatif dengan yang berorientasi radikal dalam rangka menjalankan modernisasi di Negara mereka masing-masing.  Namun konflik Timur Tengah tidak hanya tentang konflik di dalam masyarakatnya saja, namun juga menangkut konflik antara dua Negara superpower dengan daya pengaruh mereka di kawasan ini. Hal tersebut tentulah terjadi karena nilai strategis dari Timur Tengah yang mereka perebutkan untuk menancapkan kekuasaannya di Negara-negara Arab.
 Persaingan ini melibatkan dua Negara berpengaruh yaitu Ameria dan Uni Soviet yang merupakan dua Negara besar dengan ideology yang jauh berbeda. Persaingan kedua Negara ini tidak hanya terjadi secara eksplisit namun juga secara implisit. Di Timur Tengah perebutan pengaruh diantara keduanya melibatkan Negara-negara Arab yang masing-masing memiliki konflik tersendiri. Persaingan antara kedua Negara ini pastilah disebabkan oleh suatu alasan khusus yang ada di baliknya, yaitu kepentingan nasional masing-masing Negara

     B. Rumusan Masalah
1      Apa Latar Belakang Amerika ingin menguasai kawasan Timur Tengah ?
2      Bagaimana cara Amerika mendominasi kawasan Timur Tengah ?
3      Bagaimana cara Amerika menjalankan kekuasaannya di Timur Tengah ?

     C. Tujuan Penulisan
1      Mengetahui Latar Belakang Amerika ingin menguasai kawasan Timur Tengah
2      Mengetahui cara Amerika mendominasi kawasan Timur Tengah
3      Mengetahui cara Amerika menjalankan kekuasaannya di Timur Tengah

BAB II
PEMBAHASAN

a.      Amerika dan Negeri Bulan Sabit
Berkurangnya pengaruh Inggris di kawasan Timur Tengah sebagai major power membuat Amerika mulai mengalihkan perhatiannya ke kawasan ini. Hal tersebut jelaslah karena keberadaan minyak yang begitu melimpah di Timur Tengah yang merupakan komoditi yang sangat dibutuhkan oleh Negara industry seperti Amerika. Produksi minyak yang melimpah dari Saudi Arabia, Kuwait, Bahrain, dan Irak makin meyakinkan Amerika tentang arti strategis dari Timur Tengah. Namun bukan saja masalah minyak yang menjadi perhatian Amerika, namun bahaya ekspansionisme politik Soviet di Timur Tengaj sehingga Amerika harus cepat meletakkan dasar-dasar kebijaksanaan politiknya di Timur Tengah untuk menangkal pengaruh Soviet serta menyelamatkan kepentingan vitalnya di kawasan ini.
Untuk mempertahankan kepentingannya Amerika menerapkan beberapa strategi dalam menghadapi ancaman dari Negara lain yang mungkin dapat mengusik kepentingannya tersebut. Strategi Amerika untuk melancarkan kepentingannya sepenuhnya didasari oleh kepentingan nasionalnya yaitu :
1.      Mengusahakan agar sumber-sumber alam Timur Tengah tidak jatuh ke tangan kekuatan musuh.
2.      Memelihara kemampuan destruksi unsure-unsur segional dari kekuatan strategis Amerika.
3.      Memelihara kontinuitas mengalirnya keuntungan invasi dan usaha-usaha komersial Amerika.
4.      Menjamin suplai sumber-sumber alam Timur Tengah bagi sekutu-sekutu Amerika agar mereka tetap kuat secara ekonomis dan militer.
5.      Memlihara kontinuitas mengalirnya keuntungan usaha-usaha komersial Amerika.
6.      Menjaga kredibilitas dengan jalan memenuhi komitmen-komitmen Amerika di Timur Tengah.
7.      Meneruskan hak transit dan overflight bagi pegawai pesawat udara dan kapal laut Amerika.
Pada dasawarsa 1950-an politik Amerika banyak dipengaruhi oleh strategi “massive retalition” yang berarti bahwa jalan terbaik bagi Amerika dan sekutu-sekutunya untuk mengalahkan lawan adalah langkah militer ekstrim, yaitu serangan nuklir massif atau ancaman serangan nuklir massif. Pandangan bahwa untuk mengalahkan Soviet dengan mudah hanya perlu menggunakan sekali serang nuklir merupakan cerminan usaha Amerika untuk membentuk system blok di Timur Tengah sebagai perluasan blok Barat dalam rangka mengepung Soviet.
Unsaha untuk melibatkan Negara-negara Arab dalam berbagai blok sendiri tapat dilihat sebagai suatu usaha untuk menjadikan Timur Tengah sebagai salah satu panggung terbuka antara perebutan pengaruh Soviet dengan Amerika. Namun strategi massive retaliation ini dipandang terlalu berbahaya bagi kelangsungan peradaban manusia karena seperti yang kita tahu bahwa akibat dari perang nuklir akan meninggalkan masalah yang berkepanjangan. Karena dianggap berbahaya strategi ini pun kemudian mulai ditinggalkan.
Pada dasawarsa 1960-an strategi realitas massif kemudian digantikan dengan strategi “flexible response” yang memberikan berbagai pilihan di mana penggunaan kekuatan militer dapat dikombinasikan dengan cara-cara politik dan ekonomi serta jalur ideologis. Strategi ini dilengkapi dengan doktrin Nixon dan doktrin Guam yang mengatakan bahwa suatu pemerintahan yang pro-Amerika harus diberi bantuan tehnik, ekonomi dan perlengkapan militer dalam rangka melawan komunisme.
Masuknya armada keenam Amerika Serikat ke Laut Tengah berkaitan erat dengan usaha Amerika untuk memperkuat perannya di Timur Tengah guna menghadapi Uni Soviet. Tujuannya sendiri dapat dilihat seperti yang tergambar dalam buku konflik dan diplomasi di Timur Tengah :
“Tujuan masuknya armada keenam Amerika Serikat ke Laut Tengah adalah untuk memperkuat sayap selatan NATO, membawa berbagai kapal selam berpeluru kendali nuklir lebih dekat ke Soviet, menjamin terjaminnya kepentingan Amerika di Timur Tengah, serta tekanan Amerika terhadap Negara-negara Arab. Bahkan hingga pada dasawarsa 1960-an kawasan Timur Tengah benar-benar menjadi arena terbuka persaingan antara dua Negara besar yaitu Amerika dan Soviet. Persaingan tersebut tidak hanya mencakup dalam kekuasaan atas sumberdaya alam saja, melainkan mencakup persaingan politik dimana keduanya saling mengancam untuk menggunakan kekuatan nuklir masing-masing. ” [1]
Pada dasawarsa 1970-an Amerika mengganti strategi mereka menjadi strategi realistic deterrence, strategi ini menekankan keterlibatan kekuatan Amerika dalam konflik Timur Tengah secara terarah serta perundingan yang didasarkan atas posisi yang kuat.[2] Jadi Amerika memilih untuk melakukan perundingan-perundingan baik dengan Negara-negara arab maupun dengan pihak lawannya yaitu Soviet.
Kerena adanya titik keseimbangan antara kedua Negara superpower dalam hal kekuatan militer, maka keduanya memutuskan untuk saling melakukan perjanjian-perjanjian guna mencapai perdamaian. Oleh karena itu hingga tahun-tahun 1980-an Amerika akan tetapi meneruskan strategi realistic deterrence dengan melakukan negosiasi dengan Soviet.[3] Meskipun dalam kenyataannya kedua Negara ini tetap tidak menaganggap bahwa serangan nuklir akan lebih efektif dalam persaingan ini.
Sebenarnya semua konflik yang terjadi di Timur Tengah tidak terjadi hanya karna minyak saja, namun juga disebabkan oleh pertarungan dua Negara besar yang saling berebut kekuasaan. Hal tersebut seperti yang dikatakan dalam buku Y.M. Primakof yang menyatakan bahwa : “Kepentingan Amerika di Timur Tengah tidak hanya berhenti pada kepentingan mereka menghentikan pengaruh Soviet di kawasan ini saja, melainkan juga mencakup perdagangan senjata mereka ke kawasan ini.”[4] Tujuannya jelas yaitu memperkokoh kehairan militernya di kawasan Teluk, menekan gerakan-gerakan radikal agar tidak mengganggu kepentingan Amerika di Timur Tengah, serta yang tidak kalah pentingnya tentu saja agar suplai minyak ke Amerika tetap terjaga.
Dengan industry persenjataan yang dimiliki oleh Amerika, maka dengan mudah Amerika membuat Negara-negara Arab yang sedang berkonflik untuk bergantung padanya. Hal tersebut dikarenakan sebagai ganti dari suplai senjata yang dilakukan oleh Amerika kepada Negara-negara Arab tersebut pasukan serta pemimpin-pemimpin militer Amerika boleh memasuki kawasan Timur Tengah. Akibatnya adalah pos-pos militer Amerika mulai banyak berdiri di kawasan Timur Tengah.
b.      Timur Tengah Lumbung Minyak Dunia
Arti penting Timur Tengah yang menjadi salah satu alasan Amerika begitu bersikeras mempertahankan pengaruhnya di kawasan Timur Tengah adalah karena kandungan minyak bumi yang terkandung di kawasan ini. Minyak yang ada di Timur Tengah ini sedikit banyak menentukan politik luar negeri Amerika. Jelaslah hal tersebut terjadi karena minyak ini sangat mempengaruhi industrialisasi di Amerika.
Perhatian Amerika khususnya kepada Negara-negara penghasil minyak bumi yang ada di kawasan Timur Tengah disebabkan karena Timur Tengah merupakan kawasan dengan cadangan minyak bumi terbesar di seluruh dunia. Di Timur Tengah terdapat 60 persen pasokan minyak dari seluruh dunia. Jika cadangan di Negara-negara komunis tidak dimasukkan, maka sekitar 85 persen cadangan minyak dunia berada di Timur Tengah.[5]
Amerika sendiri memiliki lima dari tujuh perusahaan minyak terbesar di dunia yang sangat mempengaruhi harga minyak dunia. Kelima perusahaan itu bahkan telah menjalankan kepentingannya sejak sebelum Perang Dunia II. Perusahaan Amerika tersebut memainkan segala peranan dalam pengolahan minyak di Timur Tengah mulai dari tahap oksplorasi hingga pemasaran. Ditambah lagi dengan sifat multinasional perusahaan-perusahaan tersebut yang memungkinkan eksploitasi atas sumber minyak dengan konsentrasi tinggi dan dalam jangka waktu yang mereka butuhkan. 
Alasan penting lain selain pentingnya minyak bumi bagi kelangsungan perekonomian berbasis industry Amerika, adalah pentingnya minyak bumi bagi sekutu-kekutu Amerika. Baik Amerika dan Negara-negara sekutunya sangat bergantung dengan minyak dari Timur Tengah. Bahkan ketika OAPEC (Organization of Arab Petroleum Exporting Countries) pada 17 Oktober 1973 mengumumkan pengurangan produksi minyak mereka sebanyak 5 persen dari bulan sebelumnya, dan khusus Saudi Arabia sebesar 10 persen, perekonomian dunia terguncang.
Ketika Nixon mengumumkan bantuan Amerika untuk Israel sebanyak 2,5 millyar dollar, Saudi menyatakan embargo total terhadap ekspor minyak ke Amerika. Meskipun embargo yang dilakulan oleh Negara-negara Arab ini meskipun tidak menghancurkan industry barat namun sempat membuat ekonomi internasional terguncang. Akibatnya banyak Negara-negara yang sebelumnya mendukung Israel berbalik menuntut Israel untuk mundur kembali ke garis perbatasan sebelum perang 1967 dan menuntut agar hak-hak rakyat Palestina didiskusikan dan dicarikan jalan keluar.
Embargo minyak yang dilakukan oleh Arab Saudi berhasil memecah belah blok barat hingga Prancis dan Jepang lebih mendukung Arab dan mengucilkan Israel dengan Amerika. Komitmen Amerika untuk mendukung Israel tentulah memberi masalah tersendiri untuk pemerintah, karena Amerika juga tidak bisa memungkiri kebutuhan mereka akan minyak bumi. Namun kerja sama yang sudah terjalin cukup lama antara keduanya membuat mereka saling sepakat pada tahun 1974 bahwa Arab dapat membeli perlengkapan militer Amerika dan Amerika kembali mendapat suplai minyak dari Saudi Arabia.[6]
Kebutuhan Amerika pada minyak Saudi memang mutlak, terbukti pada kekalahan lobi Israel pada tahun 1978. Pada bulan Mei 1978 Senat Amerika menyetujui paket penjualan senjata kepada Saudi Arabia. Meskipun hal ini ditentang oleh Israel namun karena didasarkan kepada kebutuhannya akan suplai minyak. Jadi dapat disimpulkan bahwa Amerika menjadi sangat tergantung pada Arab karena kebutuhannya akan minyak yang menjadi tumpuan industrinya. Sehingga politik luar negeri yang diambil oleh Amerika sangat tergantung pada kepentingannya akan minyak dunia di Timur Tengah. 
c.       Lobi Israel
Dalam melaksanakan kegiatan politik luar negeri, tentulah politik domestic menjadi salah satu pertimbangan yang dipikirkan sebelum memutuskan sesuatu. Peran bangsa Yahudi yang meskipun hanya sejumlah 3 persen dari seluruh penduduk Amerika, namun mereka memainkan peran yang cukup penting untuk diperhitungkan dalam politik Amerika. Namun karena mereka aktif dalam kegiatan politik serta perhatian mereka yang besar terhadap kondisi di Timur Tengah, maka pandangan mereka banyak pula didegarkan oleh pemerintah Amerika.
Lobi Israel sendiri menjadi semakin kuat kedudukannya karena jumlah suara Yahudi dalam pemilihan anggota Congress maupun presiden ikut menentukan hasil pemilihan. Selain keaktifan mereka di dunia politik, secara demografis orang-orang Yahudi merupakan orang kelompok yang paling terpelajar, paling professional, dan paling kaya raya.[7] Oleh karena itu Lobi Israel sering berhasil mempengaruhi setiap kebijakan Amerika yang berkaitan dengan Timur Tengah. Ditambah dengan donasi besar-besaran untuk membiayai partai Demokrat.
Namun meskipun mereka memiliki pengaruh yang kuat di pemerintahan, namun ada kalanya keinginan mereka tidak berjalan mulus. Kepentingan Zionis telah membuat lobi Israel ini kemudian menjadi begitu bersemangat untuk membentuk pandangan public. Meskipun tidak jarang berita yang dikeluarkan sangat jauh berbeda dengan keadaan yang ada di lapangan. Lobi Israel yang bekerja “dari dalam” dan sebagian media Amerika Zionis yang bekerja “dari luar”, bersama-sama memudahkan masuknya pengaruh Israel pada politik Amerika di Timur Tengah yang memang pada intinya selalu pro Israel.

d.      Tahap-tahap keterlibatan Amerika di Timur Tengah
Beberapa tujuan politik Amerika di Timur Tengah sudah barang tentu menentukan keterlibatan Amerika dalam konflik Timur Tengah dan bagaimana memanfaatkan konflik tersebut untuk mencari sasaran-sasaran politik luar negerinya. Perubahan politik luar negeri Amerika sendiri bergantung kepada kondisi yang terjadi di kawasan Timur Tengah itu sendiri.
Hubungan Amerika dengan Saudi Arabia sendiri sebenarnya dapat dikatakan stabil jika dibandingkan dengan hubungan Amerika dengan Negara-negara Timur Tengah lainnya yang cenderung naik turun. Untuk melihat secara lebih jelasnya mengenai tahap masuknya Amerika ke kawasan Timur Tengah maka kita dapat melihat dari negeri Mesir.[8]
Tahap pertama yaitu setelah revolusi Mesir 1952. Dalam tahap yang berjalan sekitar tahun 1952-1955 ini, Amerika berusaha untuk memperkuat kontak dengan rezim Nasser dan berusaha untuk mempengaruhi politik luar negeri maupun dalam negeri Mesir. Para pemimpin yang duduk di Washington kemudian sadar untuk mengamankan kepentingan Amerika di Timur Tengah mereka hanya perlu mendekatkan diri kepada Negara Arab dan Israel, bukan malah mengintervensi konflik keduanya.
Tahap kedua (1955-1957) ditandai dengan konfrontasi militer Israel-Mesir pada tahun 1955 dan juga konflik bersenjata Islrael Suriah. Pada pertengahan 1955 Mesir menyetujui pembelian senjata dari Cekoslovakia dan Soviet dan sekaligus memecah monopoli penjualan sejata oleh Barat di Timur Tengah. Tahun 1956 menyaksikan agresi tiga serangkai Inggris,-Prancis-Israel terhadap Mesir. [9]
Setelah 1956 Amerika merubah politiknya di Timur Tengah dengan menggunakan metode-metode subversive terutama terhadap Mesir. Meskipun begitu Amerika belum melepaskan pendekatan konstruktif kepada Mesir dengan harapan dapat menarik keuntungan dari mundurnya Inggris dan Prancis dari Timur Tengah. Dalam tahap dua ini Amerika mulai memperkuat Israel.
Tahap ketiga (1957-1970) dimulai dengan doctrin EisenHower yang menyatakan bahwa Amerika harus mengisi “Vaccum” di kawasan yang telah ditinggalkan oleh Inggris dan Perancis sebagai kekuatan kolonialis. Proklamasi Eisenhower kemudian diikuti oleh intervensi bersenjata Amerika dan Inggris di Libanon dan Jordan menghindari lahirnya pemerintahan yang anti-barat. Pada tahap ketiga ini Amerika mulai menampakkan sikap permusuhan terbuka pada Mesir dan berusaha menggulingkan rezim Nasser. Ketiga ternyata bahwa usaha-usaha itu tidak berhasil. Amerika mulai memanfaatkan unsure-unsur ekspansionalis politik Israel guna mencapai kepentingannya di Timur Tengah.
Tahap keempat dimulai pada tahun 1970 sampai sekarang. Setelah meninggalkan Nasser Amerika mulai menjalankan pendekatan yang lebih seimbang terhadap konflik Timur Tengah dan berusaha menarik keuntungan dari perubahan-perubahan politik dan ekonomi yang terjadi di Mesir dan Negara-negara Arab lainnya pada awal 1970-an. Sesudah perang 1973 Amerika mencoba mengambil peran sebagai “mediator” dalam konflik Arab – Israel dan berusaha agar pendekatannya di Timur Tengah dapat menetralisir unsur-unsur yang sangat menentang rencana ekspansionis Israel dan semaksimal mungkin melemahkan posisi dan pengaruh Soviet di kawasan Timur Tengah.
Politik Amerika dalam mencoba memecahkan konflik Israel-Arab agaknya secara sengaja ingin meninggalkan Uni Soviet sebagai suatu faktor penting. Politik Amerika yang seperti itu tentulah mempersulit terjadinya perdamaian di kawasan Timur Tengah. Namun biar bagaimanapun politik yang dijalankan Amerika jika kawasan Timur Tengah mampu bersatu, bukan tak mungkin mereka dapat bersatu dan bangkit melawan Amerika. Terlebih dengan sumber daya Minyak yang mereka miliki yang membuat mereka menjadi salah satu Negara yang akan disegani hingga sepuluh tahun kedepan.

BAB III
PENUTUP

Setiap kebijakan pemerintah baik di dalam maupun diluar negeri pastilah diambil berdasarkan atas beberapa pertimbangan yang didasarkan kepada kepentingan yang menjadi tujuan Negara. Hal itu pula yang mendasari setiap kebijakan yang diambil oleh Amerika dalam menjalankan politiknya, demi mencapai tujuannya yaitu mengamankan kepentingannya di kawasan Timur Tengah. Beberapa kepentingan Amerika tersebut antara lain adalah pentingnya memblokade pengaruh Uni Soviet pada masa itu, kedua mengamankan suplai minyak yang menjadi tumpuan hidup perekonomian Amerika serta Negara-negara sekutunya, serta pasar senjata dan penanaman kekuasaan atas perekonomian dunia.
Amerika sebagai Negara superpower tentu saja sangat memperhatikan kawasan Timur Tengah yang merupakan kawasan penyimpan minyak terbesar dunia. Karena minyak merupakan penggerak ekonomi bagi Negara-negara industry seperti Amerika. Oleh karena itu untuk melancarkan kepentingannya di Timur Tengah Amerika menyiapkan berbagai strategi, mulai dari strategi keras yaitu perang nuklir, hingga kerjasama dengan Negara-negara Arab maupun Soviet. Strategi yang diterapkan Amerika sendiri merupakan strategi yang didasarkan kepada kondisi yang sedang terjadi di Timur Tengah.

DAFTAR PUSTAKA

Andrew Flower. World Oil Production. New York : Scientific American, 1978.
Badan Penelitian dan Pengembangan. Kecenderungan Timur Tengah Tahun 1980-an. Jakarta : Departemen Luar Negeri, 1983.
Bilgin, Pinar. 2005. Regional Security in The Middle East: A Critical Perspective. New York : RoutledgeCurzon, 2005.
Primakof, Y.M. Anatomy Of The Middle East Conflict. Moskow : Nauka Publishing House, 1971.
Sihbudi, Riza, dkk. Konflik dan Diplomasi di Timur Tengah. Bandung : PT Eresco, 1993.

Laman :
http:// elib.unikom.ac.id. PDF Amerik Serikat dan Timur Tengah.html, diakses pada 12 Januari 2019 pukul 21.35 wib




[1] Sihbudi, Riza, dkk. Konflik dan Diplomasi di Timur Tengah. (Bandung : PT Eresco, 1993). Hlm. 177.
[2] Badan Penelitian dan Pengembangan. Kecenderungan Timur Tengah Tahun 1980-an. (Jakarta : Departemen Luar Negeri, 1983). Hlm. 147.
[3] Y.M. Primakof. Anatomy Of The Middle East Conflict. (Moskow : Nauka Publishing House, 1971). Hlm. 147.
[4] Ibid. Hlm.149.                                                               
[5] Andrew Flower. World Oil Production. (New York : Scientific American, 1978).  Hlm.98.
[6] Y.M. Primakof,  Log.Cit.
[7] Badan Penelitian dan Pengembangan, Op.Cit hlm. 158.
[8] Ibid, hlm.160.
[9] http:// elib.unikom.ac.id. PDF Amerik Serikat dan Timur Tengah.html, diakses pada 17 Mei 2017 pukul 13.40 wib
[10] Rizky Aristya Setiawan. Universitas Negeri Jakarta